Selasa, 28 Oktober 2014

Soal Latihan Elastisitas




UJI KONSEP
Catatan: tanda bintang * Menunjukkan tingkat kesulitan soal-soal yang harus diselesaikan. Bintang Tiga (***) berarti anda sudah mencapai level A.

Tegangan, Regangan, dan Modulus Young
1.        * Seutas kawat mempunyai luas penampang 4 mm2. Kawat itu diregangkan oleh gaya sebesar 3,2 N sehingga bertambah panjang 0,03 cm. jika diketahui panjang kawat mula-mula 60 cm, hitunglah:
a.       Tegangan kawat
b.      Regangan kawat
c.       Modulus young
2.       * Seutas karet yang luas penampangnya 4 mm2 ditarik dengan gaya sebesar 8 N. Tentukan tegangan stress yang dialami! (2.106 N/m2)
3.       **Kawat alumunium yang panjangnya 1 m dan berjari-jari 0,5 mm ditekan dengan gaya sebesar 20 N. Tentukan tegangan yang dialami kawat alumunium! (2,55.107 N/m2)
4.      * Seutas karet setelah diberi beban panjangnya menjadi 150 mm. jika panjang mula-mula karet, berapakah regangan kawat tersebut! (0,2)
5.       ***Berapakah diameter minimum sebuah kawat tembaga agar diberi beban 400π N tidak kehilangan sifat elastisitasnya?
6.      * Batang besi yang panjangnya 12 cm dan luas penampangnya 4 mm2, ujungnya ditarik oleh sebuah gaya yang besarnya 50 N. jika batang besi bertambah panjang 1,25 mm, tentukan modulus young besi tersebut!
7.       *Sepotong kawat logam homogen dengan panjang 140 cm dan luas penampangnya 2 mm2 ketika ditarik dengan gaya sebesar 100 N bertambah panjang 1 mm. Tentukan modulus elastisitas bahan logam tersebut!
8.      ** sebuah batang baja panjangnya 16 m dengan luas penampang 4 cm2. Sa;ah satu ujung baja ditarik dengan gaya F sehingga panjang baja menjadi 16,002 m. apabila modulus young baja 8.105 N/mm2, berapakah besar gaya yang digunakan untuk menarik baja tersebut?
9.      ** Kawat besi yang luas penampangnya 6 mm2, diregangkan dengan gaya 4,8 N sehingga bertambah panjang 0,025 cm.  Jika panjang kawat mula-mula 80 cm, hitunglah:
a.       Modulus Young besi
b.      Pertambahan panjang kawat besi apabila diregangkan dengan gaya 5,2 N

Hukum Hooke
10.    **Tentukan dimensi konstanta pegas!
11.     **Sebuah pegas mempunyai konstanta pegas 900 N/m, dibawahnya digantungkan beban 5 kg, sehingga pegas bertambah panjang sebesar 30 cm. Tentukan percepatan pertambahan panjang pegas tersebut!

12.    **Batang baja yang panjangnya 30 m dan luas penampangnya 6 mm2 ditarik dengan gaya sebesar 50 N. Apabila diketahui modulus Young baja 2 x1010 N/m2, maka berapakah tetapan pegas baja tersebut?
13.    ***Grafik hubungan gaya (6) terhadap pertambahan panjang pegas (Δ9) dari pegas A dan pegas Bditunjukkan seperti gambar di bawah ini. Berdasarkan grafik di atas, pernyataan yang benar adalah ....
A. Konstanta pegas A = konstanta pegas B
B. Konstanta pegas A < konstanta pegas B
C. Konstanta pegas A setengah dari konstanta pegas B
D. Konstanta pegas A dua kali konstanta pegas B
E. Konstanta pegas A empat kali konstanta pegas B
14.    ** Dari percobaan menentukan elastisitas karet dengan menggunakan karet ban diperoleh data seperti tabel berikut. Dapat disimpulkan nilai konstanta terbesar adalah percobaan ....
                                                                                       No
A. 7 3,5 . 10−2
B. 8 2,5 . 10−2
C. 6 2,0 . 10−2
D. 9 4,5 . 10−2
E. 10 3,3 . 10−2
15.    ***Dua kawat terbuat dari bahan yang sama. Jari-jari kawat A dua kali B dan panjang  kawat A empat kali kawat B. Tentukan perbandingan tetapan gaya kawat A dan kawat B!
16.    **Gambar disamping menunjukkan hubungan antara gaya F dengan pertambahan panjang x. Berdasarkan grafik tersebut, Berapakah gaya yang diperlukan untuk merengkan pegas sepanjang 7,5 cm?
17.    **Sebuah pegas mempunyai konstanta pegas 1200 N/m, dibawahnya digantungkan beban 6 kg. jika pegas bergerak ke bawah dengan percepatan 10 m/s2, berapakah pertambahan panjang pegas tersebut?
18.    **Sebuah pegas panjangnya L, luas penampangnya A, dan modulus elastisitasnya E, tentukan konstanta pegas k!
19.    ***Ketika massa 300 gram digantungkan pada ujung pegas, panjang pegas 40 cm. jika massa 500 gram digantungkan pada ujung pegas, panjang pegas menjadi 50 cm. tentukan konstanta pegas tersebut!
20.   **Gaya sebesar 100 N digunakan untuk menarik batang baja yang panjangnya 40 meter dan luas penampangnya 0,2 cm2 ditarik dengan gaya 50 N. apabila diketahui modulus Young baja 20 x1010 N/m2, berapakah tetapan pegas tersebut?
21.    *** Jika sobat punya kawat A dan kawat B sama panjang dengan perbandingan diameter 1:2, masing-masing ditarik oleh gaya sebesar F, sehingga mengalami pertambahan panjang dengan perbandingn 3:1. Pertanyaannya berapa nilai perbandingan dari modulus young kawat A dan kawat B?
Susunan Pegas
22.   * Tetapan gaya tiga buah pegas masing-masing besarnya k1= 20 N/m, k2= 30 N/m, k3= 60 N/m. Tentukan tetapan pegas jika ketiganya dirangkai
a.       Seri
b.      Paralel
23.   **Empat buah pegas disusun seperti gambar disamping. Tetapan gaya pegas total adalah..

24.   **Tiga buah pegas A,B,C disusun seperti pada gambar. Konstanta gaya setiap pegas sebesar k. Tentukan konstanta penggantinya!


 
25.   **Empat buah pegas yang mempunyai konstanta gaya sama sebesar k = 200 N/m disusun seperti gambar disamping. Apabila massa beban 2 kg, hitunglah pertambahan panjang pegas tersebut!
26.   ***Perhatikan gambar disamping. Jika k1= 50 N/m, k2= 70 N/m, k3= 60 N/m. Tentukan panjang pegas bila diberi beban 10 N
27.   ***Di dalam sebuah lift tergantung sebuah pegas yang konstantanya 400 N/m. Ujung bawah pegas digantungi beban yang massanya 2 kg.
a.       Hitung pertambahan panjang pegas jika lift diam
b.      Bagaimana jika lift bergerak turun dengan percepatan 4 m/s2?
c.       Bagaimana jika lift bergerak turun dengan percepatan 4 m/s2?

Energi Potensial Pegas
28.   **Tiga buah pegas disusun seperti gambar. Jika energi 2 joule meregangkan susunan pegas sejauh 5 cm maka nilai konstanta pegas (8) dalam N/m adalah ...
         k1       k2       k3
A. 200 600 900
B. 600 200 800
C. 600 300 200
D. 300 600 200
E. 300 200 600
29.   **Perhatikan hasil percobaan pada beberapa pegas berikut!
Berdasarkan data tersebut, manakah  pegas yang memiliki konstanta pegas paling besar ?
30.   **Sebuah pegas sebelum ditarik dengan gaya sebesar 20 N panjangnya 30 cm. jika pegas bertambah panjang sejauh 10 cm, maka berapakah energi potensial pegas ?

31.    ***Sebuah pegas yang panjangnya 50 cm. jika diberikan gaya 200 N pegas bertambah panjnag 10 cm. kemudian pegas dipotong menjadi dua sama panjang dan keduanya disusun paralel. Berapakah besarnya energi yang diperlukan pegas agar tetap bertambah panjang 10 cm
32.   **Sebuah pegas yang panjangnya 20 cm digantungkan vertikal. Kemudian ujungnya diberi beban 400 gram sehingga panjangnya bertambah 5 cm. jika beban tersebut ditarik 5 cm ke bawah. Tentukan energi potensial elastisitas pegas (g = 10 m/s2)
33.   ***Grafik hubungan antara gaya F terhadap pertambahan panjang x suatu pegas ditunjukkan pada gambar erikut. Dari grafik tentukan:
a.       Konstanta pegas k
b.      Energi potensial pegas saat pertambahan panjang 0,05 m

Percobaan Tegangan Permukaan



Tegangan permukaan adalah gaya yang bekerja tegak lurus dalam satuan panjang pada permukaan zat cair. Tegangan juga berhubungan dengan gaya antarmolekul dalam cairan. Molekul-molekul dalam cairan tertarik sama pada semua sisi sehingga tarik menarik pada molekul adalah nol. Namun, gaya tarik menarik molekul di permukaan hanya ke bawah. Oleh karena itu, molekul permukaan mengalami gaya tarik resultan ke bawah dari dalam cairan, yang cenderung membuat area permukaan air sekecil mungkin. Hal ini menyebabkan molekul di permukaan yang akan ditarik ke dalam dan sehingga selalu ada beberapa kekuatan ketidakseimbangan yang bekerja pada permukaan cairan.
Untuk itulah, kami melakukan percobaan menuangkan zat cair yang berbeda massa jenis ke dalam satu wadah. Dimana percobaan ini bertujuan untuk memastikan adanya sekat pemisah antara zat cair yang memiiki massa jenis yang berbeda, yang di sebabkan oleh gaya tarik menarik antar molekul sejenis.
Kami melakukan percobaan ini dengan cara,
1.      Masukkan beberapa zat cair yang memiliki massa jenis yang berbeda, yaitu kecap, susu kental manis, dan sabun cair.
2.      Ketika zat cair dimasukkan ke dalam wadah, kami menggunakan alat bantu, yaitu sendok untuk menahan zat cair yang dimasukkan, supaya tidak terjadi percampuran antar zat cair tersebut.
3.      Pertama, kami memasukkan kecap kedalam wadah.
4.      Lalu dengan perlahan kami masukkan susu kental manis ke dalam wadah.
5.      Setelah itu, kami masukkan sabun cair gula ke dalam wadah.
Setelah selesai, ternyata terbentuk sekat yang menjadi pembatas antara satu zat cair dengan yang lainnya. Terutama pada susu kental manis dan sabun cair yang sangat kelihatan sekali sekat pembatasnya, ini dikarenakan minyak dan air memiliki massa jenis yang cukup jauh perbandingannya. Sehingga massa jenis yang berbeda yang merupakan bagian dari tekanan tersebut mempengaruhi gaya tegangan permukaan zat cair yang diamati. Bahwa gaya tarik menarik molekul akan berpusat pada satu titik di tengah, dan akan membuat area permukaan air sekecil mungkin, sehingga mempertahankan keadaan zat cair tersebut yang menyebabkan tidak tercampur. Ini juga terjadi pada tetesan air yang berbentuk bulat, karena bentuk bulat merupakan bentuk yang paling sedikit memerlukan ruang untuk permukaan air tersebut.
Dalam percobaan menuangkan zat cair yang berbeda massa jenis ke dalam satu wadah yang kami lakukan, dapat disimpulkan, bahwa massa jenis yang ada pada suatu zat cait akan mempengaruhi tegangan permukaan zat cair tersebut, sehingga gaya tarik menarik molekul di permukaan yang sejenis akan mempertahankan keadaannya. Jika dua zat cair yang memiliki massa jenis yang sama disatukan dalam wadah yang sama, maka akan terbentuk sekat pemisah yang sangat terlihat.
Dalam tegangan permukaan, selain oleh massa jenis yang merupakan bagian dari tekanan dan gaya tarik molekul yang sejenis, juga di pengaruhi oleh berbagai faktor lainnya. Misalnya, Temperatur, sifat cairan, dan polutan dalam cairan.

Prilaku Seks Bebas



Seks pada hakekatnya merupakan dorongan narluri alamiah tentang kepuasan syahwat. Tetapi banyak kalangan yang secara ringkas mengatakan bahwa seks itu adalah istilah lain dari Jenis kelamin yang membedakan antara pria dan wanita. Jika kedua jenis seks ini bersatu, maka disebut perilaku seks. Sedangkan perilaku seks dapat diartikan sebagai suatu perbuatan untuk menyatakan cinta dan menyatukan kehidupan secara intim. Ada pula yang mengatakan bahwa seks merupakan hadiah untuk memenuhi atau memuaskan hasrat birahi pihak lain. Akan tetapi sebagai manusia yang beragama, berbudaya, beradab dan bermoral, seks merupakan dorongan emosi cinta suci yang dibutuhkan dalam angka mencapai kepuasan nurani dan memantapkan kelangsungan keturunannya.
Tegasnya, orang yang ingin mendapatkan cinta dan keturunan, maka ia akan melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya. Perilaku seks merupakan salah satu kebutuhan pokok yang senantiasa mewarnai pola kehidupan manusia dalam masyarakat. Perilaku seks sangat dipengaruhi oleh nilai dan norma budaya yang berlaku dalam masyarakat. Setiap golongan masyarakat memiliki persepsi dan batas kepentingan tersendiri terhadap perilaku seks. Bagi golongan masyarakat tradisional yang terikat kuat dengan nilai dan norma, agama serta moralitas budaya, cenderung memandang seks sebagai suatu perilaku yang bersifat rahasia dan tabu untuk dibicarakan secara terbuka, khususnya bagi golongan yang dianggap belum cukup dewasa. Para orang tua pada umumnya menutup pembicaraan tentang seks kepada anak-anaknya, termasuk mereka sendiri sebagai suami isteri merasa risih dan malu berbicara tentang seks.
 Bagi kalangan ini perilaku seksual diatur sedemikian rupa dengan ketentuan-ketentuan hukum adat, Agama dan ajaran moralitas, dengan tujuan agar dorongan perilaku seks yang alamiah ini dalam prakteknya sesuai dengan batas-batas kehormatan dan kemanusiaan. Biasanya hubungan intim antara dua orang lawan jenis cenderung 3 bersifat emosional primer, dan apabila terpisah atau mendapat hambatan, maka keduanya akan merasa terganggu atau kehilangan jati dirinya. Berbeda dengan hubungan intim yang terjadi dalam kehidupan masyarakat modern, biasanya cenderung bersifat rasional sekunder. Anak-anak yang mulai tumbuh remaja lebih suka berbicara seks dikalangan teman-temannya. Jika hubungan intim itu terpisah atau mendapat hambatan, maka mereka tidak akan kehilangan jati diri dan lebih cepat untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan dalam lingkungan pergaulan lainnya.
Lembaga keluarga yang bersifat universal dan multi fungsional, baik pengawasan sosial, pendidikan keagamaan dan moral, memelihara, perlindungan dan rekreasi terhadap anggota-anggota keluarganya, dalam berhadapan dengan proses modernitas sosial, cenderung kehilangan fungsinya. Sebagai konsekuensi proses sosialisasi norma-norma yang berhubungan batas-batas pola dan etika pergaulan semakin berkurang, maka pengaruh pola pergaulan bebas cenderung lebih dominan merasuk kedalam kebiasaan baru. Seks sebagai kebutuhan manusia yang alamiah tersebut dalam upaya pemenuhannya cenderung didominasi oleh dorongan naluri seks secara subyektif. Akibatnya sering terjadi penyimpangan dan pelanggaran perilaku seks di luar batas hak-hak kehormatan dan tata susila kemanusiaan. Latar belakang terjadinya perilaku seks bebas pada umumnya dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
1.  Gagalnya sosialisasi norma-norma dalam keluarga, terutama keyakinan agama dan             moralitas;
2. Semakin terbukanya peluang pergaulan bebas; setara dengan kuantitas pengetahuan tentang perilaku seks pada lingkungan sosial dan kelompok pertemanan;
3. Kekosongan aktivitas-aktivitas fisik dan rasio dalam kehidupan sehari-hari;
4. Sensitifitas penyerapan dan penghayatan terhadap struktur pergaulan dan seks bebas relatif tinggi;
5. Rendahnya konsistensi pewarisan contoh perilaku tokoh-tokoh masyarakat dan lembaga-lembaga sosial yang berwenang;
6. Rendahnya keperdulian dan kontrol sosial masyarakat;
7. Adanya kemudahan dalam mengantisipasi resiko kehamilan;
8. Rendahnya pengetahuan tentang kesehatan dan resiko penyakit berbahaya;
9. Sikap perilaku dan busana yang mengundang desakan seks;
10. Kesepian, berpisah dengan pasangan terlalu lama, atau karena keinginan untuk menikmati sensasi seks di luar rutinitas rumah tangga; 4
11. Tersedianya lokalisasi atau legalitas pekerja seks. Berdasarkan alasan tersebut, maka semakin terbukalah pergaulan bebas antara pria dan wanita, baik bagi kalangan remaja maupun kalangan yang sudah berumah tangga. Hal ini dimungkinkan karena sosialisasi norma dalam keluarga tidak efektif, sementara cabang hubungan pergaulan dengan berbagai pola perilaku seks di luar rumah meningkat yang kemudian mendominasi pembentukan kepribadian baru. Kalangan remaja pada umumnya lebih sensitif menyerap struktur pergaulan bebas dalam kehidupan masyarakat. Bagi suami isteri yang bekerja di luar rumah, tidak mustahil semakin banyak meninggalkan norma-norma dan tradisi keluarga sebelumnya, kemudian dituntut untuk menyesuaikan diri dalam sistem pergaulan baru, termasuk pergaulan intim dengan lawan jenis dalam peroses penyelesaian pekerjaan.
 Kondisi pergaulan semacam ini seseorang tidak hanya mungkin menjauh dari perhitungan nilai harmonisasi keluarga, akan tetapi selanjutnya semakin terdorong untuk mengejar karier dalam perhitungan ekonomis material. Kenyataan ini secara implisit melembaga, dimaklumi, lumrah, dan bahkan merupakan kebutuhan baru bagi sebagian besar keluarga dalam masyarakat modern. Kebutuhan baru ini menuntut seseorang untuk membentuk sistem pergaulan modernitas yang cenderung meminimalisasi ikatan moral dan kepedulian terhadap hukum-hukum agama. Sementara di pihak lain, jajaran pemegang status terhormat sebagai sumber pewarisan norma, seperti penegak hukum, para pemimpin formal, tokoh masyarakat dan agama, ternyata tidak mampu berperan dengan contoh-contoh perilaku yang sesuai dengan statusnya.
Sebagai konsekuensinya adalah membuka peluang untuk mencari kebebasan di luar rumah. Khususnya dalam pergaulan lawan jenis pada lingkungan bebas norma dan rendahnya kontrol sosial, cenderung mengundang hasrat dan kebutuhan seks seraya menerapkannya secara bebas. Bagi kalangan remaja, seks merupakan indikasi kedewasaan yang normal, akan tetapi karena mereka tidak cukup mengetahui secara utuh tentang rahasia dan fungsi seks, maka lumrah kalau mereka menafsirkan seks semata-mata sebagai tempat pelampiasan birahi, tak perduli resiko. Kendatipun secara sembunyi-sembunyi mereka merespon gosip tentang seks diantara kelompoknya, mereka menganggap seks sebagai bagian penting yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan remaja. Kelakar pornografi merupakan kepuasan tersendiri, sehinga mereka semakin terdorong untuk lebih dekat mengenal lika-liku seks sesungguhnya. Jika immajinasi seks ini memperoleh tanggapan yang sama dari pasangannya, maka tidak mustahil kalau harapan-harapan indah yang termuat dalam konsep seks ini benarbenar dilakukan. 5
II.                Popularitas Perilaku Seks Bebas dalam kehidupan masyarakat
Pupulernya perilaku seks di luar nikah, karena adanya tekanan dari teman-temannya atau mungkin dari pasangannya sendiri. Kemudian disusul oleh dorongan kebutuhan nafsu seks secara emosional, di samping karena rendahnya pemahaman tentang makna cinta dan rasa keingintahuan yang tinggi tentang seks. Beberapa hasil penelitian mengungkapkan bahwa gadis melakukan seks di luar nikah karena tekanan teman-temannya sesama wanita. Teman-temannya mengatakan bahwa: "Semua gadis modern melakukannya, kalau tidak, ya.., termasuk gadir kampungan"; "Jaman sekarang tak ada lagi perawan-perawanan, nikmati saja hidup ini dengan keindahan". Dengan demikian Ia melakukannya hanya untuk membuktikan bahwa iapun sama normalnya dengan kelompok teman modernnya yang telah terperangkap dalam penyimpangan moral. Ia ingin tetap diterima oleh kelompok temannya secara berlebihan, sehingga mengalahkan kepribadian dan citra diri. Pengakuan lain, bahwa melakukan seks dengan alasan agar cinta pasangannya semakin kuat, dan apabila aku tidak melakukannya, berarti aku tidak bisa menunjukkan bukti cintaku kepadanya. Kecuali itu, karena mereka telah beribu-ribu kali memperoleh informasi tentang kehebatan dan kedahsyatan seks itu, baik dari pergaulan sehari-hari maupun dari mass media, seperti televisi, film, show, majalah dan brosur-brosur porno yang cenderung mengagungkan kehidupan seks inkonvensional, dimana terdapat kemudahan untuk berkencan intim, berpegangan, berpelukan, meraba, dan bahkan tidur bersama. Gosip-gosip seks secara bertubi-tubi dan secara berantai telah membakar rasa penasaran mereka terhadap seks, sehingga timbul pertanyaan dalam hayal mereka: "seperti apa sih rasanya seks itu"?, "apa benar sedahsyat yang dikatakan orang"? Dalam perasaan penasasan, mereka akhirnya mencari tahu sendiri dengan riset partisipatif. Setelah seks itu ditemukan dalam praktek, lalu semuanya terjawab dan ternyata sesuai dengan hipotesis, sehingga terbentuklah perilaku yang namanya KETAGIHAN. 6 "kalau sudah basah, sekalian mandi saja; sekali terlanjur, lebih baik seterusnya". Mantan perawan sekali nge-seks, sama artinya melakukan 6 atau 7 kali, toh perawan tak akan kembali, mengapa harus dibatasi? Di sinilah awal mulanya tumbuh pernyataan perang dari mereka terhadap segala macam norma yang membatasi kebebasan seks. Secara teoritis memang hubungan cinta ada yang bersifat platonis, yaitu cinta tanpa unsur nafsu badaniah terhadap kekasihnya. Cinta semacam ini pada perinsipnya mengandung semangat "apa yang dapat aku lakukan untukmu". Akan tetapi secara umum dalam perkembangannya, seks lebih didambakan secara fisik, ketimbang hubungan cinta dan kasih sayang. Sebagian pihak menganggap hubungan cinta dianggap sebagai alasan untuk memperoleh kepuasan seks semata. Di sinilah seks menjadi kepanjangan dari perasaan cinta. Kisah cinta yang konvensional dianggap tidak variatif, cengeng, ketinggalan jaman dan tidak jantan. Menanggapi perkembangan pemahaman pola kehidupan seks tersebut, dapat diasumsikan bahwa orang masa kini cenderung "lebih cepat jatuh seks ketimbang jatuh cinta". Cinta dan seks dikondisikan sebagai wujud sikap dan perilaku majemuk yang sekaligus mengandung unsur nilai persahabatan, pergaulan intim, menikmati kebersamaan, kasih sayang, hubungan seks, dan saling mempercayai antar sesama lawan jenisnya tanpa batas yang tegas. Dalam hubungan seks pada umumnya terdapat proses kesepakatan bahwa masing-masing pelaku berbuat secara sukarela dan bebas dari ikatan norma atau jaminan resiko jangka panjang. Semua perilaku seks disepakati sebagai sebuah kemerdekaan yang bebas dari tuntutan moral. Hubungan cinta cenderung tidak konsisten, tergantung kapan datangnya letupan perasaan kebutuhan seksual. Keperdulian terhadap kepentingan dan kegelisahan orang lain sering diwujudkan dalam katakata dan tindakan yang semu sebagai dalih atau muslihat untuk memperoleh hubungan seks. Kata-kata yang mengatasnamakan cinta sering dilontarkan sebagai jebakan yang sebenarnya mengandung unsur pemaksaan. Beberapa contoh pernyataan yang umum dilontarkan untuk memperoleh kesepakatan hubungan seks, misalnya: "Aku sudah terlalu lama menunggu, kalau malam ini kamu menolak, lupakan saja semuanya". "Aku bawa kondom sutra kok, tidak ada masalah". "Kamu kan bagian dari hidupku, dan aku bagian dari hidupmu, ayo dong!". "Toh tak ada bedanya isteri dan calon isteri. Kita toh siap kawin kalau ada apa-apa". 7 "Aku bisa saja dengan gadis lain, tapi aku hanya membutuhkan persatuan jiwa raga dengan engkau seorang". "Jika kamu benar-benar cinta, maka kamu tak akan tega menyiksa aku". Ungkapan-ungkapan tersebut sebenarnya bermaksud agar pasangannya tidak menunda-nunda hubungan seks yang dituntutnya. Jika kebutuhan terpenuhi, maka sementara waktu berikutnya hubungan komunikasi dan interaksi antar sesamanya menghambar. Dalam kondisi demikian biasanya timbul pikiran-pikiran rasional, perhitungan-perhitungan masa depan (what nexs), dan tuntutan aktualisasi diri dalam kehidupan masyarakat pada umumnya. III. Karakteristik dan Pola Perkembangan Perilaku Seks Bebas dalam Kehidupan Masyarakat Ada sebagian kalangan yang menganggap bahwa perilaku seks pranikah terpisah dari ukuran moral; artinya sah-sah saja sepanjang dilakukan atas dasar kebutuhan bersama. Ukuran moral berbicara tatkala hubungan seks terjadi melalui pemaksaan fisik. Seks pernikahan secara formal dilakukan sebagai suatu dalih umum lantaran sebelumnya terdapat hambatan atau kesulitan untuk mempeloleh seks. Keserasian seks dalam rumah tangga diperhitungkan melalui kuantitas pengalaman coba-coba bermain seks tersendiri dengan berganti-ganti pasangan. Sedangkan kualitas keserasian seks yang menyatu dalam kehidupan bersama antara dua pribadi yang utuh, bersatu dalam pembinaan dan tanggungjawab keluarga berdasarkan rambu-rambu hukum agama, moral dan budaya, dianggap sebagai tapal batas penghalang kenikmatan hubungan seks. Pola pikir dan perhitungan pria terhadap hubungan seks, cenderung tidak didasarkan pada penilaian baik buruknya pribadi dan perilaku pasangannya secara keseluruhan, atau jaminan kesetiaan hidup bersama dalam perspektif masa depan, melainkan diukur semata-mata karena selera tertarik dari segi fisik yang indah, montok dan menggiurkan. Sementara dipihak wanita masa kini seolah memberikan reaksi yang positif dengan sengaja bersikap, berperilaku (termasuk mode busana) yang secara nyata menonjolkan dan membuka bagianbagian tubuh yang diketahui mengundang birahi. Kalau diketahui karakteristik pria lebih merupakan gejala badaniah yang didorong oleh gemuruh seks yang dangkal, sementara wanita cenderung memberikan peluang, maka meskipun pria sebagai sumber inisiatif penekan dalam melakukan serentetan pendekatan seks melalui pegangan tangan, ciuman, memeluk dan mencumbu; bukan berarti 8 sebagai satu-satunya pihak yang bertanggungjawab, tetapi pihak wanita juga menentukan tingkat intimitas batas kepantasan hubungan seks mereka. Oleh karena itu dalam perkembangan hubungan intim itu, lagi-lagi pihak wanita menyerah dan mengizinkan pria untuk memenuhi tuntutan seksnya, lantaran iapun sesungguhnya mempunyai deru-gelora nafsu seks tersendiri. Sebab bila puncak birahi keduanya telah seimbang, maka hampir tak ada orang yang sanggup menolak keinginan hubungan seksnya, baik dengan alasan-alasan rasional maupun alasan-alasan moral, dosa ataupun sanksi sosial. Dalam perburuan seks, kaum pria cenderung bersifat lebih independen dan interaktif dalam posisi meminta dan menekan (memaksa), sehingga tanpa disadari terjadi eksploitasi perilaku seks yang kemudian mengaburkan makna cinta dan seks. Pihak wanita sendiri memberikan reaksi seks dalam posisi terikat (dependen) dan tak mampu menolak tuntutan seks. Keterikatan wanita dalam perilaku seks masa kini cenderung salah kaprah menanggapi makna mitos cinta sejati yang berarti "rela memberikan segalanya". Hal ini justeru diartikan sebagai proses kompromi seks yang saling merelakan segala yang berharga demi sebuah kenikmatan seks. Oleh karena itu nilai pengorbanan, harga diri dan penyesalan, akibat hubungan seks tersebut semaksimal mungkin ditiadakan. Artinya kebebasan seks cenderung dipandang sebagai perilaku pemuasan nafsu yang melahirkan kenikmatan belaka, dan melupakan realitas negatif akibat dari seks itu sendiri. Perilaku seks bebas, tak terkecuali perselingkuhan kaum pria dan wanita berumah tangga, dipandang sebagai kesenangan hidup tanpa ikatan, sehingga patut dijadikan kebutuhan permanen. Resiko perilaku seks bebas, seperti kehamilan dan tercemarnya nama baik keluarga tidak lagi menakutkan, disamping karena peristiwa ini sudah biasa terjadi, juga karena kehamilan dapat dicegah melalui kebebasan penggunaan kontrasepsi (paling tidak, kondom sutra). Kebiasaan seks bebas dapat mengakibatkan orang semakin tidak mampu menahan birahinya yang sewaktu-waktu mendesak, sehingga tidak mustahil terjadi perkosaan di mana-mana sebagaimana diketahui cenderung meningkat, baik kuantitas maupun kualitasnya. Dari segi sosial-psikologis, perilaku seks bebas dianggap tidak mendatangkan beban tanggungjawab yang besar, dan tidak pula dirasakan sebagai pencemaran terhadap tradisi adat dan moral. Tentang kemungkinan terjadi depresi karena perasaan berdosa, penyesalan atau rasa takut terjangkitnya penyakit kelamin, semuanya tidak termasuk dalam perhitungan. Persepsi masyarakat terhadap perilaku seks cenderung menghalalkan seks atas dasar argumen saling 9 suka, saling cinta, dan saling membutuhkan. Kondisi semacam ini mengisyaratkan suatu pengakuan terhadap penyelewengan hubungan (love affair) atau perselingkuhan, baik sebelum atau sesudah menikah. Kondisi ini kemudian menempatkan posisi hubungan intimitas seks manusia mendekati persamaannya dengan perilaku seks pada binatang. Meskipun perilaku seks semacam ini masih tersembunyi, akan tetapi secara realistik diam-diam diakui, terutama bagi mereka yang tak mampu menahan nafsu seksnya dalam jangka waktu tertentu. Mungkin karena kesepian, atau karena terperangkap dalam perkawinan yang tak bahagia, bisa juga karena ingin menikmati sensasi seks di luar rutinitas rumah tangga. Gejala ini kemudian mendorong timbulnya gerakan sosial (social movement) dari kolektifitas kelompok untuk menegakkan pola perilaku seks bebas. Meskipun secara terselubung dalam jangka waktu tertentu, tetapi lama kelamaan akan membawa perubahan perilaku yang diakui oleh seluruh lapisan masyarakat sebagai suatu kelaziman. Sepanjang hubungan seks itu masih dalam kerangka jaminan kepentingan bersama dengan sedikit mungkin beban tanggungjawab atas syarat-syarat kontrak sosialnya, maka selama itu pula rutinitas hubungan seks akan berlangsung sebagai suatu kelaziman dalam kehidupan masyarakat. Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan yang ideal, tentu semua tindakan itu dapat dikategorikan sebagai jalan pintas yang mengotorkan jiwa, pikiran dan fisik, karena mau tak mau ada perasaan tak layak, kotor, berdosa dan pengaruh negatifnya, baik terhadap hubungan perkawinan maupun terhadap masa depan remaja. Semua tindakan itu dapat menurunkan kesucian dan kemulyaan perkawinan, di samping dapat merusak sumber daya generasi muda. Perilaku seks bebas dapat membentuk struktur kemasyarakatan dalam status sosial